<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>FAHRURRAJI ASMUNI (kumtul : bahasa dan sastra)</title>
	<atom:link href="http://fahruraji.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fahruraji.wordpress.com</link>
	<description>dengan bahasa berkomunikasi jadi mudah,dengan bersastra hidup terasa indah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 May 2010 04:55:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fahruraji.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/49b3db41487fc399218a8986804d885c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>FAHRURRAJI ASMUNI (kumtul : bahasa dan sastra)</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fahruraji.wordpress.com/osd.xml" title="FAHRURRAJI ASMUNI (kumtul : bahasa dan sastra)" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fahruraji.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kebahasaan</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/03/kebahasaan-2/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/03/kebahasaan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 04:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[RAGAM DAN LARAS BAHASA 1. Ragam Dan Laras Bahasa Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=86&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>RAGAM DAN LARAS BAHASA</p>
<p>1.      Ragam Dan Laras Bahasa<br />
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.<br />
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.<br />
Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yaitu (1) ragam bahasa lisan, (2) ragam bahasa tulis. Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.</p>
<p>1.1  Ragam Bahasa<br />
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baasa Indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa Indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolok ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.<br />
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980).<br />
Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi berdasarkan :<br />
1.         Media pengantarnya atau sarananya, yang terdiri atas :<br />
a.    Ragam lisan.<br />
b.   Ragam tulis.<br />
 Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.<br />
Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.</p>
<p>2. Berdasarkan situasi dan pemakaian<br />
Ragam bahasa baku dapat berupa : (1) ragam bahasa baku tulis dan (2) ragam bahasa baku lisan. Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.<br />
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.<br />
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.<br />
Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata) :<br />
1.      Tata Bahasa<br />
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)<br />
a.       Ragam bahasa lisan :<br />
-         Nia sedang baca surat kabar<br />
-         Ari mau nulis surat<br />
-         Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.<br />
-         Mereka tinggal di Menteng.<br />
-         Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.<br />
-         Saya akan tanyakan soal itu<br />
.<br />
b.      Ragam bahasa Tulis :<br />
-         Nia sedangmembaca surat kabar<br />
-         Ari mau menulis surat<br />
-         Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.<br />
-         Mereka bertempat tinggal di Menteng<br />
-         Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.<br />
-         Akan saya tanyakan soal itu.</p>
<p>2.      Kosa kata<br />
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata :<br />
a.       Ragam Lisan<br />
-         Ariani bilang kalau kita harus belajar<br />
-         Kita harus bikin karya tulis<br />
-         Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak<br />
b.      Ragam Tulis<br />
-         Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar<br />
-         Kita harus membuat karya tulis.<br />
-         Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.<br />
Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar.<br />
a.       ragam standar,<br />
b.       ragam nonstandar,<br />
c.        ragam semi standar.<br />
Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modem (Alwi, 1998: 14).<br />
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan :<br />
a.       topik yang sedang dibahas,<br />
b.      hubungan antarpembicara,<br />
c.       medium yang digunakan,<br />
d.      lingkungan, atau<br />
e.       situasi saat pembicaraan terjadi<br />
Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan nonstandar :<br />
•     penggunaan kata sapaan dan kata ganti,<br />
•     penggunaan kata tertentu,<br />
•     penggunaan imbuhan,<br />
•     penggunaan kata sambung (konjungsi), dan<br />
•     penggunaan fungsi yang lengkap.<br />
Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue.<br />
Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.<br />
Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat.<br />
Contoh : (1) Ibu mengatakan, kita akan pergi besok<br />
(1a) Ibu mengatakan bahwa kita akan pergi besok<br />
Pada contoh (1) merupakan ragam semi standar dan diperbaiki contoh (1a) yang merupakan ragam standar.<br />
Contoh : (2) Mereka bekerja keras menyelesaikan pekerjaan itu.<br />
(2a) Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan itu.<br />
 Kalimat (1) kehilangan kata sambung (bahwa), sedangkan kalimat (2) kehilangan kata depan (untuk). Dalam laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan. Hal ini menunjukkan bahwa laras jurnalistik termasuk ragam semi standar.<br />
            Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita menjawab “Tau.” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Sebenarnya, pëmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.</p>
<p>1.2 Laras Bahasa<br />
Pada saat digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa masuk dalam berbagai laras sesuai dengan fungsi pemakaiannya. Jadi, laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya. Dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah, laras ilmiah populer, laras feature, laras komik, laras sastra, yang masih dapat dibagi atas laras cerpen, laras puisi, laras novel, dan sebagainya.<br />
Setiap laras memiliki cirinya sendiri dan memiliki gaya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulis dan dalam bentuk standar, semi standar, atau nonstandar. Laras bahasa yang akan kita bahas dalam kesempatan ini adalah laras ilmiah.</p>
<p>2. Laras llmiah<br />
Dalam uraian di atas dikatakan bahwa setiap laras dapat disampaikan dalam ragam standar, semi standar, atau nonstandar. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan laras ilmiah. Laras ilmiah harus selalu menggunakan ragam standar.<br />
Sebuah karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran, fakta, peristiwa, gejala, dan pendapat. Jadi, seorang penulis karya ilmiah menyusun kembali pelbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis (Soeseno, 1981: 1).<br />
Dalam uraian di atas dibedakan antara pengertian realitas dan fakta. Seorang pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita, sedangkan seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan. Realistis berarti bahwa peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung dialami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dan dokumen, surat keterangan, press release, surat kabar atau sumber bacaan lain, bahkan suatu peristiwa faktual. Faktual berarti bahwa rangkaian peristiwa atau percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat, dirasakan, dan dialami oleh penulis (Marahimin, 1994: 378).<br />
Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Meskipun demikian, dalam karya ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peranan utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif tetap harus dipikirkan. Penulisan karya ilmiah bukan hanya untuk mengekspresikan pikiran tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Dapat pula, kita menumbangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita. Jadi, sebuah karya ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.<br />
Persyaratan bagi sebuah tulisan untuk dianggap sebagai karya ilmiah adalah sebagai berikut (Brotowidjojo, 1988: 15-16).<br />
1.      Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.<br />
2.      Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulisan ilmiah, yakni penyebutan rujukan dan kutipan yang jelas.<br />
3.      Karya ilmiah disusun secara sistematis, setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual, dan prosedural.<br />
4.      Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.<br />
5.      Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.<br />
6.      Karya ilmiah ditulis secara tulus. Hal itu berarti bahwa karya ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, tidak bersifat ambisius dan berprasangka. Penyajiannya tidak boleh bersifat emotif.<br />
7.      Karya ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris. Jika pada akhirnya timbul kesan argumentatif dan persuasif, hal itu ditimbulkan oleh penyusunan kerangka karangan yang cermat. Dengan demikian, fakta dan hukum alam yang diterapkan pada situasi spesifik itu dibiarkan berbicara sendiri. Pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut.</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, dari segi bahasa, dapat dikatakan bahwa karya ilmiah memiliki tiga ciri, yaitu :<br />
1.    harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar atau mendua makna<br />
2.    harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan, agar tidak menimbulkan kerancuan atau keraguan<br />
3.    harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa.<br />
Disamping persyaratan tersebut di atas, untuk dapat dipublikasikan sebagai karya ilmiah ada ketentuan struktur atau format karangan yang kurang lebih bersifat baku. Ketentuan itu merupakan kesepakatan sebagaimana tertuang dalam International Standardization Organization (ISO). Publikasi yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam ISO memberikan kesan bahwa publikasi itu kurang valid sebagai terbitan ilmiah (Soehardjan, 1997 : 10). Struktur karya ilmiah (Soehardjan, 1997 : 38) terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, bahan dan metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih dan daftar pustaka.  ISO 5966 (1982) menetapkan agar karya ilmiah terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, pendahuluan, inti tulisan (teori metode, hasil, dan pembahasan), simpulan, dan usulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka (Soehardjan, 1997 : 38).</p>
<p>3.         Ragam Bahasa Keilmuan<br />
Menurut Sunaryo, (1994 : 1), bahwa dalam berkomunikasi, perlu diperhatikan kaidah-kaidah berbahasa, baik yang berkaitan kebenaran kaidah pemakaian bahasa sesuai dengan konteks situasi, kondisi, dan sosio budayanya. Pada saat kita berbahasa, baik lisan maupun tulis, kita selalu memperhatikan faktor-faktor yang menentukan bentuk-bentuk bahasa yang kita gunakan. Pada saat menulis, misalnya kita selalu memperhatikan siapa pembaca tulisan kita , apa yang kita tulis, apa tujuan tulisan itu, dan di media apa kita menulis. Hal yang perlu mendapat perhatian tersebut merupakan faktor penentu dalam berkomunikasi. Faktor-faktor penentu berkomunikasi meliputi : partisipan, topik, latar, tujuan, dan saluran (lisan atau tulis).<br />
Partisipan tutur ini berupa PI yaitu pembicara/penulis dan P2 yaitu pembaca atau pendengar tutur. Agar pesan yang disampaikan dapat terkomunikasikan dengan baik, maka pembicara atau penulis perlu (a) mengetahui latar belakang pembaca/pendengar, dan (b) memperhatikan hubungan antara pembicara/penulis dengan pendengar/pembaca. Hal itu perlu diketahui agar pilihan bentuk bahasa yang digunakan tepat , disamping agar pesannya dapat tersampaikan, agar tidak menyinggung perasaan, menyepelekan, merendahkan dan sejenisnya.<br />
Topik tutur berkenaan dengan masalah apa yang disampaikan penutur ke penanggap penutur. Penyampaian topik tutur dapat dilakukukan secara : (a) naratif (peristiwa, perbuatan, cerita), (b) deskriptif (hal-hal faktual : keadaan, tempat barang, dsb.), (c). ekspositoris, (d) argumentatif dan persuasif.<br />
Ragam bahasa keilmuan mempunyai ciri :<br />
(1)       cendekia : bahasa Indonesia keilmuan itu mampu digunakan untuk mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat.<br />
(2)       lugas dan jelas : bahasa Indonesia keilmuan digunakan untuk menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat.<br />
(3)       gagasan sebagai pangkal tolak : bahasa Indonesia keilmuan digunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis.<br />
(4)       Formal dan objektif : komunikasi Ilmiah melalui teks ilmiah merupakan komunikasi formal. Hal ini berarti bahwa unsur-unsur bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa Indonesia keilmuan adalah unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi. Pada lapis kosa kata dapat ditemukan kata-kata yang berciri formal dan kata-kata yang berciri informal (Syafi’ie, 1992:8-9).<br />
<span id="more-86"></span></p>
<p>Contoh :<br />
Kata berciri formal                                          Kata berciri informal<br />
Korps                                                                              korp<br />
Berkata                                                                            bilang<br />
Karena                                                                             lantaran<br />
Suku cadang                                                                     onderdil<br />
4.           Laras Ilmiah Populer<br />
Laras ilmiah populer merupakan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, tetapi diungkapkan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti. Karya ilmiah populer tidak selalu merupakan hasil penelitian ilmiah. Tulisan itu dapat berupa petunjuk teknis, pengalaman dan pengamatan biasa yang diuraikan dengan metode ilmiah. Jika karya ilmiah harus selalu disajikan dalam ragam bahasa yang standar, karya ilmiah populer dapat disajikan dalam ragam standar, semi standar dan nonstandar. Penyusun karya ilmiah populer akan tetap disebut penulis dan bukan pengarang, karena proses penyusunan karya ilmiah populer sama dengan proses penyusunan karya ilmiah. Pembedaan terjadi hanya dalam cara penyajiannya.<br />
Seperti diuraikan di atas, persyaratan yang berlaku bagi sebuah karya ilmiah berlaku pula bagi karya ilmiah populer. Akan tetapi, dalam karya ilmiah populer terdapat pula persoalan lain, seperti kritik terhadap pemerintah, analisis atas suatu peristiwa yang sedang populer di tengah masyarakat, jalan keluar bagi persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, atau sekedar informasi baru yang ingin disampaikan kepada masyarakat.<br />
Jika karya ilmiah memiliki struktur yang baku, tidak demikian halnya dengan karya ilmiah populer. Oleh karena itu, karya ilmiah populer biasanya disajikan melalui media surat kabar dan majalah, biasanya, format penyajiannya mengikuti format yang berlaku dalam laras jurnalistik. Pemilihan topik dan perumusan tema harus dilakukan dengan cermat. Tema itu kemudian dikerjakan dengan jenis karangan tertentu, misalnya narasi, eksposisi, argumentasi, atau deskripsi. Secara lebih rinci lagi, penulis dapat mengembangkan gagasannya dalam berbagai bentuk pengembangan paragraf seperti pola pemecahan masalah, pola kronologis, pola perbandingan, atau pola sudut pandang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=86&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/03/kebahasaan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SATRA</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/satra/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/satra/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 08:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/satra/</guid>
		<description><![CDATA[Plot / Alur dan Dialog Plot atau alur adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan kronologis, saling terkait. Plot/ alur/ rangka cerita dalam dramal sebagai berikut : 1. Permulaan ( protasis/exposition), yaitu bagian yang mengantarkan/ memaparkan para tokoh, menjelaskan latar cerita, gambar peristiwa yang akan terjadi. 2. Jalinan kejadian ( epitato/ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=80&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Plot / Alur dan Dialog<br />
     Plot atau alur adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan kronologis, saling terkait.<br />
Plot/ alur/ rangka cerita dalam dramal sebagai berikut :<br />
1. Permulaan ( protasis/exposition), yaitu bagian yang mengantarkan/ memaparkan para tokoh, menjelaskan latar cerita, gambar peristiwa yang akan terjadi.<br />
2. Jalinan kejadian ( epitato/ complication ), yaitu bagian yang menggambarkan pertikaian yang dialami oleh tokoh.<br />
3. Puncak laku ( catastasis/ klimaks ), yaitu bagian yang menguraikan peristiwa-peristiwa mencapai titik kulminasi, mencapai puncak ketegangan.<br />
4. Ketegangan menurun, yaitu bagian yang menceritakan ketegangan berangsur-angsur menuju titik balik, menuju kesudahannya.<br />
5. Peleraian ( resolution ), yaitu bagian yang menceritakan pertentangan-pertentangan mulai mereda, seolah-olah ada kesepakatan damai di antara para tokoh.<br />
6. Penutupan ( catastrophe/conclusion/ penyelesaian, yaitu bagian yang menceritakan pertentangan yang dialami para tokoh sudah berakhir atau sudah terpecahkan.<br />
Dialog<br />
     Dialog ( percakapan ) merupakan unsur terpenting dari drama. Dialog merupakan unsur pembeda antara drama dengan jenis karya seni ( karya sastra ) yang lain. Melalui dialog, watak, informasi, alur,  suasana, dan tema dapat dimunculkan<br />
Diposkan oleh M.ARIFIN di 03:51  </p>
<p>Sudut Pandang<br />
     Sudut pandang, ialah cara si pengarang mengisahkan/ menceritakan suatu cerita. Sudut pandang terbagi menjadi : orang I, orang III, atau campuran ( orang I dan orang III ).<br />
Sudut pandang I terbagi menjadi : orang I sebagai tokoh utama, contoh : autobiografi, cerita rekaan, tetapi seakan pengarang sendiri yang diceritakan. Orang I pengamat, yaitu pengamat sebagai pengamat, tetapi ada dalam cerita. Kata ganti yang dapat digunakan saya atau aku atau yang sejenisnya, biasa pula disebut sudut pandang akuan.<br />
Sudut pandang orang III terbagi menjadi : orang III serba tahu, yaitu melaporkan semua tindak tanduk sangat pribadi dari pelaku, dan orang III terarah, yaitu terpusat pada satu karakter. Kata ganti yang dapat digunakan adalah dia, ia, mereka, nama orang, atau kata ganti orang ketiga lainnya, biasa disebut sudut pandang diaan<br />
Contoh<br />
Pak Balam menutup matanya kembali, dan dia terbaring demikian, letih telah<br />
berbicara begitu banyak<br />
Mereka duduk mengelilinginya dengan pikiran masing-masing. Cerita Pak Balam menimbulkan kesan yang dahsyat sekali dalam hati mereka. Mereka ingin dapat selamat sampai ke kampung, meninggalkan hutan dengan harimau maut jauh-jauh di belakang. Akan tetapi, mengakui dosa-dosa di depan kawan-kawan semua.<br />
Harimau-Harimau, Muchtar Lubis<br />
Sudut pandang dalam kutipan tersebut adalah orang III serba tahu karena melaporkan semua tindak tanduk tokoh, yaitu Pak Balam dan mereka.</p>
<p>Konflik Drama<br />
     Konflik drama, ialah ketegangan atau pertentangan dalam drama ( petentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri seorang tokoh, dua orang tokoh, atau kelompok )<br />
Penyeb konflik antara lain : dengan diri sendiri ( konflik batin),antartokoh, budaya, alam/ lingkungan, sosial )<br />
Contoh :<br />
Sulung    : Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di sana segala lapangan kerja buka<br />
                  lebar-lebar bagi bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara bangsa<br />
                  awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup damai. Rukun berdampingan antara si putih<br />
                  dan bangsa awak.<br />
Bapak     : Dan di atas segalanya pula. di sana si putih menjadi diperlukan. Dan sebuah bendara<br />
                  asing jadi lambang kedaulatan, lambang kuasa; penjajahan. Dapatkah itu kau artikan<br />
                  kemerdekaan ?<br />
( Bapak, B. Sularto )<br />
Konflik yang terdapat dalam kutipan drama tersebut adalah si bapak menerima kenyataan bahwa anaknya telah salah langkah karena menjadi penghianat bangsa dan negara. Terbukti anaknya sangat memuji penjajah ( kulit putih )<br />
Tahapan konflik dapat pula dibagi menjadi awal konflik, konflik, konflik mulai bergerak (konfiksasi), puncak konflik atau klimaks, dan penyelesaian atau antiklimaks (akhir konflik)</p>
<p>Nilai-Nilai dalam Novel<br />
     Dalam sebuah karya sastra terkandung nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain : nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti baik dan buruk, nilai sosial, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma-norma dalam kehidupan masyarakat ( misalnya saling memberi, menolong, dan tenggang rasa ), nilai budaya, yaitu konsep mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia ( misalnya : adat-istiadat, kesenian, kepercayaan, upacara adat ), dan nilai estetika, yaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan dalam karya sastra ( tentang bahasa, alur, tema )<br />
Contoh :<br />
Dari sebuah kantung di dalam keranjang besarnya, Wak Katok mengeluarkan<br />
daun ramu-ramuan. Mereka membersihkan luka-luka Pak Balam dengan air panas dan Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan daun-daun yang kemudian mereka membungus dengan sobekan kain sarung Pak Balam. Wak Katok merebus ramuan obat-obatan sambil membaca mantera-mantera, dan setelah air mendidih, air obat dituangkan ke dalam mangkok dari batok kelapa. Setelah air agak dingin, Wak Katok meminumkannya kepada Pak Balam sedikit demi sedikit.<br />
( Harimau-Harimau, Muchtar Lubis )<br />
Nilai sosial yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah memberi pertolongan kepada orang yang sedang sakit. Karena dalam kutipan diungkapkan, Wak Katok dan teman-temannya memberi pertolongan kepada Pak Balam yang terluka ( membersihkan, mengobati, dan membalutnya ) meminumkannya obat yang mereka buat sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=80&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/satra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkakas ‹ FAHRURRAJI ASMUNI (kumtul : bahasa dan sastra) — WordPress</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/perkakas-%e2%80%b9-fahrurraji-asmuni-kumtul-bahasa-dan-sastra-%e2%80%94-wordpress-2/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/perkakas-%e2%80%b9-fahrurraji-asmuni-kumtul-bahasa-dan-sastra-%e2%80%94-wordpress-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 06:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Perkakas ‹ FAHRURRAJI ASMUNI (kumtul : bahasa dan sastra) — WordPress.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=78&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fahruraji.wordpress.com/wp-admin/tools.php">Perkakas ‹ FAHRURRAJI ASMUNI (kumtul : bahasa dan sastra) — WordPress</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=78&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/05/01/perkakas-%e2%80%b9-fahrurraji-asmuni-kumtul-bahasa-dan-sastra-%e2%80%94-wordpress-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGETAHUAN/TEORI SASTRA</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/30/pengetahuanteori-sastra/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/30/pengetahuanteori-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 10:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/30/pengetahuanteori-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[Periodisasi Sastra Indonesia 1. Periodisasi Sastra o Pengertian:  penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya. o Periodisasi sastra, selain berdasarkan tahun kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial, serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya. o Ada banyak periodisasi sastra yang disusun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=77&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Periodisasi Sastra Indonesia<br />
1.	Periodisasi Sastra<br />
o	Pengertian:<br />
	penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya.<br />
o	Periodisasi sastra, selain berdasarkan tahun kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial, serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya.<br />
o	Ada banyak periodisasi sastra yang disusun oleh para kritikus, antara lain oleh:<br />
	HB. Jassin<br />
	Ajip Rosidi<br />
	A. Teeuw<br />
	Rahmat Djoko Pradopo<br />
o	Yang akan dibahas dalam presentasi ini adalah Periodisasi Sastra menurut HB. Jassin.<br />
2.	 Periodisasi Sastra Indonesia Menurut HB. Jassin<br />
        Berikut ini adalah periodisasi sastra menurut HB. Jassin:<br />
o	Sastra Melayu Lama<br />
o	Sastra Indonesia Modern<br />
	Angkatan Balai Pustaka<br />
	Angkatan Pujangga Baru<br />
	Angkatan ’45<br />
	Angkatan ‘66<br />
           •  Sastra Melayu Lama<br />
          Sastra Melayu Lama merupakan sastra Indonesia sebelum abad 20.<br />
          Ciri-ciri Sastra Melayu Lama:<br />
o	Masih menggunakan bahasa Melayu<br />
o	Umumnya bersifat anonim<br />
o	Berciri istanasentris<br />
o	Menceritakan hal-hal berbau mistis seperti dewa-dewi, kejadian alam, peri, dsb. </p>
<p>              Contoh sastra pada masa Sastra Melayu Lama:<br />
	Dongeng tentang arwah, hantu/setan, keajaiban alam, binatang jadi-jadian, dsb.<br />
	Berbagai macam hikayat seperti; Hikayat Mahabharata, Hikayat Ramayana, Hikayat Sang Boma.<br />
	Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingai oleh Hamzah Fansuri.<br />
	Gurindam Dua Belas dan Syair Abdul Muluk oleh Raja Ali Haji<br />
            •  Angkatan Balai Pustaka<br />
          Balai Pustaka merupakan titik tolak kesustraan Indonesia.<br />
          Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka adalah:<br />
o	Menggunakan bahasa Indonesia yang masih terpengaruh bahasa Melayu<br />
o	Persoalan yang diangkat persoalan adat kedaerahan dan kawin paksa<br />
o	Dipengaruhi kehidupan tradisi sastra daerah/lokal<br />
o	Cerita yang diangkat seputar romantisme.<br />
          Angkatan Balai Pustaka terkenal dengan sensornya yang ketat. Balai Pustaka berhak<br />
           mengubah naskah apabila dipandang perlu.<br />
         Contoh hasil sastra yang mengalami pen-sensoran adalah Salah Asuhan oleh Abdul    Muis yang diubah bagian akhirnya dan Belenggu karya Armyn Pane yang ditolak oleh Balai Pustaka karena tidak boleh diubah.<br />
•  Angkatan Balai Pustaka<br />
•	Contoh sastra pada masa Angkatan Balai Pustaka:<br />
o	Roman<br />
	Azab dan Sengsara (Merari Siregar)<br />
	Sitti Nurbaya (Marah Rusli)<br />
	Muda Teruna (M. Kasim)<br />
	Salah Pilih (Nur St. Iskandar)<br />
	Dua Sejoli (M. Jassin, dkk.)<br />
o	Kumpulan Puisi<br />
	Percikan Permenungan (Rustam Effendi)<br />
	Puspa Aneka (Yogi)<br />
•  Angkatan ‘45<br />
•	Angkatan ’45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin dan serba keras, yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<br />
•	Ciri-ciri Angkatan ’45 adalah:<br />
o	Terbuka<br />
o	Pengaruh unsur sastra asing lebih luas<br />
o	Corak isi lebih realis, naturalis<br />
o	Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis<br />
o	Penghematan kata dalam karya<br />
o	Ekspresif<br />
o	Sinisme dan sarkasme<br />
o	Karangan prosa berkurang, puisi berkembang<br />
Chairil Anwar , sastrawan Angkatan ‘45<br />
•  Angkatan ‘45<br />
•	Contoh sastra pada masa Angkatan ’45:<br />
o	Tiga Menguak Takdir (Chairil Anwar-Asrul Sani-Rivai Apin)<br />
o	Deru Campur Debu (Chairil Anwar)<br />
o	Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (Chairil Anwar)<br />
o	Pembebasan Pertama (Amal Hamzah)<br />
o	Kata Hati dan Perbuatan (Trisno Sumarjo)<br />
o	Tandus (S. Rukiah)<br />
o	Puntung Berasap (Usmar Ismail)<br />
o	Suara (Toto Sudarto Bakhtiar)<br />
o	Surat Kertas Hijau (Sitor Situmorang)<br />
o	Dalam Sajak (Sitor Situmorang)<br />
o	Rekaman Tujuh Daerah (Mh. Rustandi Kartakusumah)<br />
•  Angkatan ‘66<br />
•	Angkatan ’66 ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini.<br />
•	Banyak karya sastra pada angkatan yang sangat beragam dalam aliran sastra, seperti munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan lainnya.<br />
•	Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan ’66 adalah:<br />
o	Bercorak perjuangan anti tirani proses politik, anti kezaliman dan kebatilan<br />
o	Bercorak membela keadilan<br />
o	Mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan<br />
o	Berontak<br />
o	Pembelaan terhadap Pancasila<br />
o	Protes sosial dan politik<br />
•  Angkatan ‘66<br />
•	Contoh sastra pada masa Angkatan ’66 adalah:<br />
o	Putu Wijaya<br />
	Pabrik<br />
	Telegram<br />
	Stasiun<br />
o	Iwan Simatupang<br />
	Ziarah<br />
	Kering<br />
	Merahnya Merah<br />
o	Djamil Suherman<br />
	Sarip Tambak-Oso<br />
	Perjalanan ke Akhirat<br />
•  ANGKATAN PUJANGGA BARU<br />
•  Angkatan Pujangga Baru<br />
•	Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.<br />
•	Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi &quot;bapak&quot; sastra modern Indonesia.<br />
•  Angkatan Pujangga Baru<br />
•	Angkatan Pujangga Baru (1930-1942) dilatarbelakangi kejadian bersejarah “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.<br />
•	Ikrar Sumpah Pemuda 1928:<br />
o	Pertama Kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.<br />
o	Kedoea Kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.<br />
o	Ketiga Kami poetera dan poeteri indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.<br />
•	Melihat latar belakang sejarah pada masa Angkatan Pujangga Baru, tampak Angkatan Pujangga Baru ingin menyampaikan semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.<br />
•  Angkatan Pujangga Baru<br />
•	Pada masa ini, terbit pula majalah &quot;Poedjangga Baroe&quot; yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane.<br />
•	Pada masa Angkatan Pujangga Baru, ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu:<br />
o	Kelompok “Seni untuk Seni”<br />
o	Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat”<br />
•  Angkatan Pujangga Baru<br />
•	Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru antara lain sbb:<br />
o	Sudah menggunakan bahasa Indonesia<br />
o	Menceritakan kehidupan masyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita/konflik sudah berkembang)<br />
o	Pengaruh barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya nasional<br />
o	Menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualisme, intelektualisme, dan materialisme.<br />
•  Angkatan Pujangga Baru<br />
•	Salah satu karya sastra terkenal dari Angkatan Pujangga Baru adalah Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana.<br />
•	Layar Terkembang merupakan kisah roman antara 3 muda-mudi; Yusuf, Maria, dan Tuti.<br />
o	Yusuf adalah seseorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang menghargai wanita.<br />
o	Maria adalah seorang mahasiswi periang, senang akan pakaian bagus, dan memandang kehidupan dengan penuh kebahagian.<br />
o	Tuti adalah guru dan juga seorang gadis pemikir yang berbicara seperlunya saja, aktif dalam perkumpulan dan memperjuangkan kemajuan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=77&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/30/pengetahuanteori-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOSAKATA</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/29/kosakata/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/29/kosakata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 17:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/29/kosakata/</guid>
		<description><![CDATA[PEDOMAN KHUSUS PEMAKAIAN ISTILAH KOMPUTER 1. Kepoliglotan orang Indonesia Bangsa Indonesia pada dasarnya bersifat poliglot. Oleh karena itu, penggunaan istilah yang berasal dari bahasa asing asal &#8216;tampak&#8217; seperti bahasa Indonesia tidak akan merupakan masalah. Dalam percakapan lisan &#8216;didel&#8217; dibenarkan dipakai di samping &#8216;dihapus&#8217;. Akan tetapi, untuk bahasa tulis sebaiknya dipakai istilah &#8216;dihapus&#8217;. 2. Istilah Resmi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=74&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PEDOMAN KHUSUS PEMAKAIAN ISTILAH KOMPUTER</p>
<p>1.	Kepoliglotan orang Indonesia<br />
 	Bangsa Indonesia pada dasarnya bersifat poliglot. Oleh karena itu, penggunaan istilah yang berasal dari bahasa asing asal &#8216;tampak&#8217; seperti bahasa Indonesia tidak akan merupakan masalah.</p>
<p>Dalam percakapan lisan &#8216;didel&#8217; dibenarkan dipakai di samping &#8216;dihapus&#8217;. Akan tetapi, untuk bahasa tulis sebaiknya dipakai istilah &#8216;dihapus&#8217;.<br />
2.	Istilah Resmi dan Istilah Baku<br />
 	Seranai istilah yang dihasilkan berdasarkan Pedoman Khusus Pembentukan Istilah Komputer ini merupakan istilah resmi, sehingga harus dipakai dalam setiap tulisan dan dokumen resmi. Adapun pemapanan pembakuan dan pemakaiannya ditentukan berdasarkan keberterimaannya oleh masyarakat umum.<br />
3.	Pengefektifan Penggunaan Istilah<br />
 	Senarai Istilah Komputer menyediakan seperangkat kosakata bahasa Indonesia untuk digunakan dalam upaya kebahasaan untuk mengefektifkan penyusunan karya tulis bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan persyaratan pola penyajian yang bersifat tepat, singkat, lugas, dan jelas.</p>
<p>Sehubungan dengan itu, upaya penggunaan bahasa Indonesia untuk menurunkan perangkat istilah bersistem amat dianjurkan. Dari istilah akses (access) dapat diturunkan pengakses (accessor), terakseskan (accessible), keteraksesan (accessibility), aksesi (accession), dan seterusnya.</p>
<p>SENARAI PADANAN ISTILAH<br />
  No.  Istilah                         Padanan<br />
  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
    1  abort                           gugurkan<br />
    2  access                          akses<br />
    3  access management               manajemen akses<br />
    4  access unit                     unit akses<br />
    5  account                         akun; rekening<br />
    6  action button                   tombol tindak, tombol aksi<br />
    7  action setting                  penataan tindak, penataan aksi<br />
    8  active desktop                  destop aktif<br />
    9  add-ins                         tertambah<br />
   10  address                         alamat<br />
   11  address book                    buku alamat<br />
   12  administration                  administrasi<br />
   13  administration domain           ranah administrasi<br />
   14  advisory system                 sistem penasihat<br />
   15  affirmation                     penegasan<br />
   16  agenda                          agenda<br />
   17  algorithm                       algoritma<br />
   18  alias                           alias<br />
   19  align left                      rata kiri<br />
   20  align right                     rata kanan<br />
   21  alignment                       perataan<br />
   22  alternate                       silih<br />
   23  alternate recipient             penerima pilihan<br />
   24  animation                       animasi<br />
   25  anonymous remailer              penyurat-balik anonim<br />
   26  append                          bubuh<br />
   27  application                     aplikasi<br />
   28  apply                           terapkan<br />
   29  apply design                    desain terapan<br />
   30  arrange                         susun<br />
   31  array                           larik<br />
   32  artificial intelligence         kecerdasan buatan, intelegensi<br />
                                       buatan<br />
   33  ascending                       menanjak, urut naik<br />
   34  attribute                       atribut<br />
   35  auto clip art                   gambar klip otomatis<br />
   36  auto-correct                    pembetulan otomatis, otokoreksi<br />
   37  auto-forward                    maju otomatis<br />
   38  auto-replay                     putar ulang otomatis<br />
   39  auto-reply                      balasan otomatis<br />
   40  autofit                         otofit<br />
   41  autoformat                      format otomatis, otoformat<br />
   42  automatic learning              pemelajaran otomatis<br />
   43  autoshapes                      bentuk otomatis<br />
   44  autosum                         total otomatis; jumlah otomatis<br />
   45  back                            balik; belakang<br />
   46  back slash                      garis miring kiri<br />
   47  back space                      spasi mundur<br />
   48  back up                         (rekam) cadangan<br />
   49  background                      latar belakang<br />
   50  backtracking                    lacak balik<br />
   51  backward chaining               perantaian balik<br />
   52  band                            pita<br />
   53  bandwidth                       lebar pita<br />
   54  bar                             batang<br />
   55  bar-code                        kode batang<br />
   56  bar-code reader                 pembaca kode batang<br />
   57  bar-code scanner                pemindai kode batang<br />
   58  base                            basis<br />
   59  batch                           tumpak<br />
   60  best-first search               telusur pertama terbaik<br />
   61  binary                          biner<br />
   62  bit                             bit<br />
   63  bit map                         peta bit<br />
   64  blackboard model                model papan tulis<br />
   65  blind copy recipient            penerima kopi buntu; penerima<br />
                                       salin buntu<br />
   66  body                            bodi; badan<br />
   67  body text                       teks tubuh<br />
   68  bold                            tebal<br />
   69  border                          batas<br />
   70  bps                             bps<br />
   71  breadth-first search            telusur pertama lebar<br />
   72  break                           putus<br />
   73  broadcast mail                  surat siaran<br />
   74  broadcast videography           videografi siaran<br />
   75  browse                          ramban; jelajah<br />
   76  browsers                        peramban; penjelajah<br />
   77  buffer                          penyangga<br />
   78  bug                             kutu<br />
   79  bullet                          bulet<br />
   80  button                          tombol<br />
   81  byte                            bita<br />
   82  cache memory                    memori tembolok, memori<br />
                                       singgahan<br />
   83  cancel                          batal<br />
   84  capacity                        kapasitas<br />
   85  capslock                        kancing kapital<br />
   86  caption                         takarir<br />
   87  card                            kartu<br />
   88  cartridge                       kartrid, selongsong, patrun<br />
   89  cartridge disk                  disket kartu<br />
   90  cascade                         riam<br />
   91  cell                            sel<br />
   92  center                          tengah<br />
   93  central processing unit (CPU)   unit pengolah pusat (UPP)<br />
   94  change case                     ubah karakter<br />
   95  channel                         saluran, kanal<br />
   96  character                       aksara; karakter<br />
   97  chart                           bagan<br />
   98  chatting                        rumpi<br />
   99  clear                           bersih; bersihkan<br />
  100  click                           klik<br />
  101  client                          klien<br />
  102  close                           tutup<br />
  103  closed file                     berkas tertutup<br />
  104  cluster                         gugus; rumpun<br />
  105  coding                          pengodean<br />
  106  color                           warna<br />
  107  color monitor                   monitor warna<br />
  108  column                          kolom<br />
  109  comments                        komentar<br />
  110  common name                     nama umum<br />
  111  computer                        komputer<br />
  112  computer aided                  berbantuan komputer<br />
  113  computer aided design (CAD)     desain berbantuan komputer (DBK)<br />
  114  computer aided instruction      instruksi berbantuan komputer<br />
  115  computer aided manufacturing    pemanufakturan berbantuan<br />
                                       komputer<br />
  116  computer conference             konferensi komputer<br />
  117  computer memory                 memori komputer<br />
  118  computer network                jaringan komputer<br />
  119  conclusion part                 bagian kesimpulan<br />
  120  content                         isi<br />
  121  content type                    tipe isi<br />
  122  control(ctrl)                   kontrol (ktrl), kendali<br />
  123  convert                         ubah<br />
  124  copy                            salinan; kopi<br />
  125  copy recipient                  penerima salinan<br />
  126  count                           cacah<br />
  127  country name                    nama negara<br />
  128  crack                           rengkah<br />
  129  cracker                         perengah<br />
  130  create new                      buat baru<br />
  131  cursor                          kursor<br />
  132  custom views                    tilik pesanan, tilik suai<br />
  133  customizes                      sesuai<br />
  134  cut                             potong<br />
  135  cut-off                         putus<br />
  136  daemon                          jurik<br />
  137  data                            data<br />
  138  data analysis display           tampilan analisis data<br />
  139  data anaysis                    analisis data<br />
  140  data bank                       bank data<br />
  141  data interchange                saling tukar data<br />
  142  data logging                    pencatatan data<br />
  143  data processing                 pemrosesan data, pengolahan data<br />
  144  data processor                  pemroses data<br />
  145  database                        pangkalan data, basis data<br />
  146  datasheet                       lembar data<br />
  147  date                            tanggal<br />
  148  debug                           awakutu<br />
  149  decimal                         desimal<br />
  150  declarative knowledge           pengetahuan deklaratif<br />
  151  decoding                        pengawasandian<br />
  152  decrease                        kurang; susut<br />
  153  deduction                       deduksi<br />
  154  deductive inference             inferensi deduksi<br />
  155  deferred delivery               pengiriman tertunda<br />
  156  delete                          hapus<br />
  157  delete item                     butir hapus<br />
  158  delivery                        pengiriman<br />
  159  delivery notification           pemberitahuan pengiriman<br />
  160  depth-first search              telusur pertama kedalaman<br />
  161  descending                      menurun, urut turun<br />
  162  design                          desain; rancangan<br />
  163  desk application                aplikasi meja<br />
  164  digit                           digit<br />
  165  digital                         digital<br />
  166  digital computer                komputer digital<br />
  167  direct submission               submisi langsung<br />
  168  direct user                     pengguna langsung<br />
  169  directory                       direktori<br />
  170  directory information           informasi direktori<br />
  171  directory management            manajemen direktori<br />
  172  directory name                  nama direktori<br />
  173  directory system                sistem direktori<br />
  174  directory system agent          agen sistem direktori<br />
  175  directory user                  pengguna direktori<br />
  176  directory user agent            agen pengguna direktori<br />
  177  disc                            disket; cakram; diska<br />
  178  disclosure of other             penyingkapan lain<br />
  179  disconnected network drive      pemacu jaringan tak-tersambung<br />
  180  discuss                         diskusi<br />
  181  disk drive                      penggerak disket; penggerak<br />
                                       cakram<br />
  182  disk memory                     memori disket; memori cakram<br />
  183  diskette                        disket<br />
  184  display                         tayangan<br />
  185  display station                 monitor peraga<br />
  186  distribution list               senarai distribusi<br />
  187  document                        dokumen<br />
  188  document delivery               pengiriman dokumen<br />
  189  document interchange            saling tukar dokumen<br />
  190  domain                          ranah<br />
  191  domain knowledge                pengetahuan ranah<br />
  192  domain model                    model ranah<br />
  193  domain name server              server nama ranah; peladen nama<br />
                                       ranah<br />
  194  down                            anjlok<br />
  195  download                        unduh<br />
  196  drag                            seret<br />
  197  draw                            gambar; lukis<br />
  198  draw table                      buat tabel<br />
  199  drawing                         penggambaran<br />
  200  drive                           penggerak<br />
  201  dummy                           tiruan<br />
  202  edit                            edit<br />
  203  electronic data proccessing     pemrosesan data elektronik (PDE)<br />
       (EDP)<br />
  204  electronic archive              arsip elektronik<br />
  205  electronic data                 data elektronik<br />
  206  electronic document             dokumen elektronik<br />
  207  electronic mail                 surat elektronik<br />
  208  electronic mailbox              kotak surat elektronik<br />
  209  electronic messaging            pemesanan elektronik<br />
  210  emoticon                        ikon emosi<br />
  211  encoded information             informasi tersandi<br />
  212  encoding                        penyandian<br />
  213  encryption                      enkripsi<br />
  214  end                             selesai; tamat<br />
  215  enter                           enter<br />
  216  entry                           entri<br />
  217  envelope                        amplop<br />
  218  episode                         episode<br />
  219  erase                           hapus<br />
  220  eraser                          penghapus<br />
  221  error                           galat<br />
  222  esc(ape)                        hindar; keluar balik<br />
  223  evaluation function             fungsi evaluasi<br />
  224  exit                            keluar<br />
  225  expert system (ES)              sistem pakar (SP)<br />
  226  expiration date                 tanggal ekspirasi<br />
  227  expiry date indication          indikasi tanggal kedaluwarsa<br />
  228  explorer                        penjelajah<br />
  229  export                          ekspor<br />
  230  facsimile                       faksimile<br />
  231  facsimile machine               mesin faksimile<br />
  232  fax                             faks<br />
  233  fax board                       papan faks<br />
  234  fax machine                     mesin faks<br />
  235  fax modem                       modem faks<br />
  236  feedback                        balikan; umpan balik<br />
  237  fetch                           jemput; ambil<br />
  238  field                           ruas<br />
  239  field length                    panjang ruas<br />
  240  file                            berkas<br />
  241  file name                       nama berkas<br />
  242  filing                          pemberkasan<br />
  243  fill                            isi<br />
  244  fill character                  isi karakter<br />
  245  filter                          tapis; filter<br />
  246  filtering                       penapisan<br />
  247  find                            cari; temukan<br />
  248  firmware                        peranti tegar, perangkat tegar<br />
  249  floppy disk                     disket liuk; cakram liuk<br />
  250  folder                          pelipat<br />
  251  font                            huruf; fonta<br />
  252  font size                       ukuran huruf<br />
  253  footer                          kaki halaman<br />
  254  foreground                      latar depan<br />
  255  format                          format<br />
  256  format painter                  pewarna format<br />
  257  formula                         formula, rumus<br />
  258  forward                         depan<br />
  259  forward chaining                perantaian maju<br />
  260  frame                           bingkai<br />
  261  front-end                       ujung depan<br />
  262  full screen                     layar penuh<br />
  263  gateway                         gerbang<br />
  264  general                         umum<br />
  265  generate                        bangkitkan<br />
  266  get                             dapatkan<br />
  267  gigabyte                        gigabita<br />
  268  go to                           menuju<br />
  269  gridlines                       garis kisi<br />
  270  hack                            retas<br />
  271  hacker                          peretas<br />
  272  hang                            macet<br />
  273  hanging indent                  inden macet<br />
  274  hard disk                       cakram keras<br />
  275  hardware                        perangkat keras<br />
  276  header                          tajuk<br />
  277  heading                         penajukan<br />
  278  help                            bantuan<br />
  279  heuristic search                telusur heuristik<br />
  280  hide                            tersembunyi<br />
  281  highlight                       sorot<br />
  282  history                         sejarah<br />
  283  home                            pangkal<br />
  284  home base                       basis pangkal<br />
  285  horizontal                      horizontal<br />
  286  hub                             hub<br />
  287  hyperlink                       hipertaut<br />
  288  identity (ID)                   identitas (ID); tanda kenal<br />
  289  If-then rule                    kaidah jika-maka<br />
  290  If-then statement               pernyataan jika-maka<br />
  291  image interpretation            inteprestasi citra<br />
  292  image understanding             pemahaman citra<br />
  293  image recognition               rekognisi citra<br />
  294  import                          masuk; impor<br />
  295  in-basket                       masuk keranjang<br />
  296  inbox                           kotak masuk<br />
  297  indent                          inden<br />
  298  index                           indeks<br />
  299  inference engine                mesin inferensi<br />
  300  informatics                     informatika<br />
  301  information                     informasi<br />
  302  information object              objek informasi<br />
  303  information system              sistem informasi<br />
  304  information technology (IT)     teknologi informasi (TI)<br />
  305  input                           masukan<br />
  306  input data                      data masukan<br />
  307  input/output (I/O)              masukan/keluaran (M/K)<br />
  308  insert                          sisip, sisipan<br />
  309  install                         instal<br />
  310  instruction                     pembelajaran, instruksi<br />
  311  integrated software             perangkat keras terpadu<br />
  312  interactive videography         videografi interaktif<br />
  313  interface                       antarmuka<br />
  314  intranet                        intranet<br />
  315  IP (identification personal)    alamat PI (personal<br />
       address                         identifikasi)<br />
  316  italic                          italik; miring<br />
  317  joining                         penggabungan<br />
  318  key                             kunci; tombol<br />
  319  key field                       medan kunci; medan tombol<br />
  320  key lock                        terkunci<br />
  321  keyboard                        papan ketik; papan tombol<br />
  322  keyboard entry                  entri papan ketik; entri papan<br />
                                       tombol<br />
  323  keyboard printer                pencetak papan ketik<br />
  324  keypad                          bantalan kunci<br />
  325  keyword                         kata kunci; kata sandi<br />
  326  kilobyte                        kilobita<br />
  327  knowledge acquisition           persyaratan pengetahuan<br />
  328  knowledge base                  basis pengetahuan<br />
  329  knowledge engineer              insinyur pengetahuan<br />
  330  knowledge engineering           rekayasa pengetahuan<br />
  331  label                           label<br />
  332  landscape                       lanskap<br />
  333  launch                          luncur<br />
  334  launching                       peluncuran<br />
  335  leased line                     jalur sewaan<br />
  336  left                            kiri<br />
  337  legal pleadings                 pembelaan legal<br />
  338  letters and fax                 surat dan faks<br />
  339  line                            garis; jalur<br />
  340  links                           taut<br />
  341  list                            senarai<br />
  342  load                            muat<br />
  343  lock                            kancing<br />
  344  log in                          log masuk<br />
  345  log off                         log keluar<br />
  346  log on                          log masuk<br />
  347  log out                         log keluar<br />
  348  lower case                      sosok (huruf) bawah<br />
  349  macro                           makro<br />
  350  macro instructions              instruksi makro<br />
  351  macroprocessor                  makroprosesor; pemroses makro<br />
  352  magnetic disc storage           penyimpan disket magnetik<br />
  353  mail                            surat<br />
  354  mail broadcaster                penyiar surat<br />
  355  mailbox                         kotak surat<br />
  356  mainframe                       bingkai induk; kerangka induk<br />
  357  management domain               ranah manajemen<br />
  358  map network drive               pemacu jaringan peta<br />
  359  master data                     data utama; data induk<br />
  360  master file                     berkas induk<br />
  361  means-end analysis              analisis rerata-akhir<br />
  362  media player                    penggelar media<br />
  363  megabyte                        megabita<br />
  364  memo                            memo<br />
  365  memory                          memori<br />
  366  memory cache                    memori tembolok<br />
  367  memory capacity                 kapasitas memori<br />
  368  menu                            menu<br />
  369  merge                           gabung<br />
  370  message                         pesan<br />
  371  message handling                penanganan pesan<br />
  372  message retrieval               temu kembali pesan<br />
  373  message storage                 penyimpanan pesan<br />
  374  message transfer                transfer pesan<br />
  375  message transfer agent          agen transfer pesan<br />
  376  microcomputer                   mikrokomputer; komputer mikro<br />
  377  microprocessor                  mikroprosesor; prosesor mikro<br />
  378  minicomputer                    minikomputer<br />
  379  missing                         penghilangan<br />
  380  modem                           modem<br />
  381  moderated conference            konferensi terpadu<br />
  382  monitor                         monitor<br />
  383  monitor display                 tampilan monitor<br />
  384  motherboard                     papan induk<br />
  385  mouse                           tetikus<br />
  386  movie                           film<br />
  387  multi-tasking                   penugasan ganda<br />
  388  multimedia                      multimedia<br />
  389  multiple of firing              ganda penyalaan<br />
  390  name resolution                 resolusi nama<br />
  391  naming authority                otoritas penamaan<br />
  392  natural language                bahasa alami<br />
  393  network                         jaringan<br />
  394  networking                      jejaring<br />
  395  new mail                        surat baru<br />
  396  nondelivery                     takterkirim<br />
  397  numbering                       penomoran<br />
  398  numlock                         kancing angka<br />
  399  O/R address                     alamat O/R<br />
  400  object                          objek<br />
  401  off                             padam<br />
  402  office automation               otomasi kantor<br />
  403  offline                         terputus<br />
  404  ok                              oke<br />
  405  on                              hidup, on<br />
  406  on line                         terhubung; tersambung<br />
  407  open                            buka<br />
  408  operating system (OS)           sistem operasi (SO)<br />
  409  operator                        operator<br />
  410  optical disk                    disket optik<br />
  411  option                          opsi; pilihan<br />
  412  originator                      originator<br />
  413  originator/recipient            originator/penerima<br />
  414  other documents                 dokumen lain<br />
  415  out-basket                      keranjang luar<br />
  416  outline                         kerangka, ragangan<br />
  417  output                          keluaran<br />
  418  pack and go                     kemas dan jalankan<br />
  419  page default                    standar halaman<br />
  420  page down (PgDn)                turun halaman<br />
  421  page number                     nomor halaman<br />
  422  page preview                    pratilik halaman<br />
  423  page set up                     tata halaman<br />
  424  page up (PgUp)                  naik halaman<br />
  425  page width                      lebar halaman<br />
  426  paragraph                       paragraf<br />
  427  password                        sandi lewat<br />
  428  paste                           pasta, rekat<br />
  429  paste special                   spesial pasta<br />
  430  pause                           jeda<br />
  431  percent style                   gaya persentase<br />
  432  physical delivery               pengiriman fisik<br />
  433  physical delivery access        akses pengiriman fisik<br />
  434  picture                         gambar<br />
  435  pixel                           piksel<br />
  436  port                            pangkalan<br />
  437  portrait                        potret<br />
  438  power                           daya<br />
  439  preview                         pratilik<br />
  440  preview not available           pratilik taktersedia<br />
  441  primary storage                 penyimpan utama<br />
  442  print                           cetak<br />
  443  print area                      wilayah cetak<br />
  444  print out                       cetakan<br />
  445  print preview                   pratilik cetak<br />
  446  print screen                    cetak layar<br />
  447  printer                         pencetak<br />
  448  private domain name             nama ranah pribadi<br />
  449  private management              manajemen pribadi<br />
  450  probe                           kuar<br />
  451  process                         proses<br />
  452  processor                       pemroses; prosesor<br />
  453  program                         program<br />
  454  programmer                      pemrogram, programer<br />
  455  programmer analyst              analis pemrogram; analis<br />
                                       programer<br />
  456  programming                     pemrograman<br />
  457  programming language            bahasa pemrograman<br />
  458  prompt                          siap ketik<br />
  459  proof of delivery service       kedap layanan pengiriman<br />
  460  properties                      properti<br />
  461  protect                         proteksi; perlindungan<br />
  462  protocol                        protokol<br />
  463  publications                    publikasi<br />
  464  query                           permintaan, kueri<br />
  465  quit                            keluar<br />
  466  random access                   akses acak<br />
  467  random access memory (RAM)      memori akses acak<br />
  468  read only memory (ROM)          memori baca-saja<br />
  469  reader                          pembaca<br />
  470  ready                           siap<br />
  471  receipt                         menerima<br />
  472  received                        diterima<br />
  473  recipient                       penerima<br />
  474  record                          utas; rekam<br />
  475  redo                            jadi lagi<br />
  476  redundancy                      kelewahan; redundansi<br />
  477  refresh                         segar<br />
  478  release                         luncuran; terbitan<br />
  479  remove                          hapus<br />
  480  rename                          ganti judul, nama ulang<br />
  481  repeat                          ulang<br />
  482  replace                         ganti<br />
  483  replication                     replikasi<br />
  484  reply                           jawab<br />
  485  reply all                       jawab semua<br />
  486  reports                         laporan<br />
  487  reset                           tata ulang<br />
  488  resource                        sumber daya<br />
  489  restart                         start ulang<br />
  490  restore                         simpan ulang<br />
  491  resume                          teruskan lagi<br />
  492  retrieval                       temu kembali<br />
  493  retry                           coba lagi<br />
  494  return                          kembali<br />
  495  rewrite                         tulis ulang<br />
  496  right                           kanan<br />
  497  row                             baris<br />
  498  ruler                           mistar<br />
  499  run                             jalankan<br />
  500  save                            simpan<br />
  501  save as                         simpan sebagai<br />
  502  save as HTML (hyper markup      simpan sebagai bahasa markah<br />
       language)                       hiper teks (BMHT)<br />
  503  scan                            pindai<br />
  504  scanner                         pemindai<br />
  505  screen                          layar<br />
  506  scroll                          menggulung<br />
  507  scroll lock                     kunci gulung<br />
  508  search                          telusur<br />
  509  secondary recipient             penerima sekunder<br />
  510  sector                          sektor<br />
  511  secure access                   akses aman<br />
  512  security                        keamanan<br />
  513  segment                         segmen<br />
  514  select                          pilih<br />
  515  select all                      pilih semua<br />
  516  send                            kirim<br />
  517  send to                         kirim kepada<br />
  518  sent item                       surat/butir terkirim<br />
  519  series                          seri<br />
  520  server                          peladen; server<br />
  521  set up show                     tata tampilan<br />
  522  setting                         penataan<br />
  523  setup                           tata<br />
  524  shading                         pembayangan<br />
  525  share workbook                  buku kerja bersama<br />
  526  shareable directory             direktori terbagi<br />
  527  sheet                           lembar<br />
  528  shift                           alih<br />
  529  shut down                       tutup padam<br />
  530  signature                       tanda tangan<br />
  531  slash                           garis miring<br />
  532  sleep                           pudar<br />
  533  slide                           salindia<br />
  534  slide colour scheme             skema warna salindia<br />
  535  slide from files                salindia dari berkas<br />
  536  slide from outlines             salindia dari ragangan<br />
  537  slide layout                    tata letak salindia<br />
  538  slide miniature                 miniatur salindia<br />
  539  slide number                    nomor salindia<br />
  540  slide show                      tampil salindia<br />
  541  slide sorter                    penyortir salindia; pemilah<br />
                                       salindia<br />
  542  slot                            slot<br />
  543  software                        perangkat lunak<br />
  544  sort                            sortir; pilah<br />
  545  sound                           suara<br />
  546  source                          sumber<br />
  547  space                           spasi<br />
  548  spacebar                        batang spasi<br />
  549  speaker noter                   pencatat pembicara<br />
  550  spelling                        ejaan<br />
  551  split                           belah<br />
  552  splitting                       pembelahan<br />
  553  spread sheet                    lembar sebar<br />
  554  standby                         siaga<br />
  555  start                           mulai; star<br />
  556  start up                        hidupkan<br />
  557  status bar                      batang status<br />
  558  stop                            stop<br />
  559  stored message alert            siaga pesan tersimpan<br />
  560  style                           gaya<br />
  561  style checker                   pemeriksa gaya<br />
  562  subdirectory                    subdirektori<br />
  563  subject                         subjek<br />
  564  submission                      submisi<br />
  565  subscriber                      penika bawah<br />
  566  subscript                       tika bawah<br />
  567  subtotals                       subtotal<br />
  568  superscript                     tika atas<br />
  569  symbol                          simbol<br />
  570  synchronize                     menyelaraskan; selaras<br />
  571  tab                             tab<br />
  572  table                           tabel<br />
  573  tape                            pita<br />
  574  taskbar                         batang tugas<br />
  575  teleconferencing                telekonferensi<br />
  576  telecopy                        telekopi<br />
  577  telefax                         telefaks<br />
  578  teletext                        teleteks<br />
  579  telex                           teleks<br />
  580  template                        templat<br />
  581  terminal                        terminal<br />
  582  text (voice, image, video)      teks (suara, citra, video)<br />
  583  text box                        kotak teks<br />
  584  theme                           tema<br />
  585  thread                          ulir<br />
  586  throughput                      terobosan<br />
  587  tile                            ubinan<br />
  588  time                            waktu<br />
  589  to fax                          ke faks<br />
  590  toolbars                        batang alat; batang perkakas<br />
  591  tools                           alat; perkakas<br />
  592  top-level domain name           nama ranah aras puncak<br />
  593  trace                           runut<br />
  594  tracing facility                fasilitas perunutan<br />
  595  track                           lintas, jalur<br />
  596  transfer                        transfer<br />
  597  transmission                    transmisi<br />
  598  transmittal event               peristiwa transmital<br />
  599  underline                       garis bawah<br />
  600  undo                            tak jadi<br />
  601  unhide                          tak tersembunyi<br />
  602  up                              ungguh<br />
  603  up level                        naik aras<br />
  604  update                          mutakhir<br />
  605  upload                          unggah<br />
  606  upper case                      sosok (huruf) atas<br />
  607  user                            pengguna<br />
  608  user agent                      agen pengguna<br />
  609  user friendly                   akrab pengguna<br />
  610  user group                      kelompok pengguna<br />
  611  user interface                  antarmuka pengguna<br />
  612  utilities                       kegunaan<br />
  613  version                         versi<br />
  614  vertical                        vertikal<br />
  615  video conferencing              konferensi video<br />
  616  videotext                       teks video<br />
  617  view                            tilik<br />
  618  viewdata                        data tilik<br />
  619  viewing screen                  layar penilikan<br />
  620  voice mail                      surat suara<br />
  621  wake up                         bangun<br />
  622  web pages                       halaman web<br />
  623  whole page                      halaman utuh<br />
  624  window                          jendela<br />
  625  wizard                          cekatan<br />
  626  word                            kata<br />
  627  work load                       beban kerja<br />
  628  work station                    anjungan kerja<br />
  629  zoom                            zum<br />
Diperoleh dari &#8220;http://id.wikisource.org/wiki/Panduan_Pembakuan_Istilah,_Pelaksanaan_Instruksi_Presiden_Nomor_2_Tahun_2001_Tentang_Penggunaan_Komputer_Dengan_Aplikasi_Komputer_Berbahasa_Indonesia&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=74&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/29/kosakata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SASTRA</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/28/sastra-2/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/28/sastra-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 02:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/28/sastra-2/</guid>
		<description><![CDATA[Plot / Alur dan Dialog Plot atau alur adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan kronologis, saling terkait. Plot/ alur/ rangka cerita dalam dramal sebagai berikut : 1. Permulaan ( protasis/exposition), yaitu bagian yang mengantarkan/ memaparkan para tokoh, menjelaskan latar cerita, gambar peristiwa yang akan terjadi. 2. Jalinan kejadian ( epitato/ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=65&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Plot / Alur dan Dialog<br />
     Plot atau alur adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan kronologis, saling terkait.<br />
Plot/ alur/ rangka cerita dalam dramal sebagai berikut :<br />
1. Permulaan ( protasis/exposition), yaitu bagian yang mengantarkan/ memaparkan para tokoh, menjelaskan latar cerita, gambar peristiwa yang akan terjadi.<br />
2. Jalinan kejadian ( epitato/ complication ), yaitu bagian yang menggambarkan pertikaian yang dialami oleh tokoh.<br />
3. Puncak laku ( catastasis/ klimaks ), yaitu bagian yang menguraikan peristiwa-peristiwa mencapai titik kulminasi, mencapai puncak ketegangan.<br />
4. Ketegangan menurun, yaitu bagian yang menceritakan ketegangan berangsur-angsur menuju titik balik, menuju kesudahannya.<br />
5. Peleraian ( resolution ), yaitu bagian yang menceritakan pertentangan-pertentangan mulai mereda, seolah-olah ada kesepakatan damai di antara para tokoh.<br />
6. Penutupan ( catastrophe/conclusion/ penyelesaian, yaitu bagian yang menceritakan pertentangan yang dialami para tokoh sudah berakhir atau sudah terpecahkan.<br />
Dialog<br />
     Dialog ( percakapan ) merupakan unsur terpenting dari drama. Dialog merupakan unsur pembeda antara drama dengan jenis karya seni ( karya sastra ) yang lain. Melalui dialog, watak, informasi, alur,  suasana, dan tema dapat dimunculkan<br />
Diposkan oleh M.ARIFIN di 03:51  </p>
<p>Sudut Pandang<br />
     Sudut pandang, ialah cara si pengarang mengisahkan/ menceritakan suatu cerita. Sudut pandang terbagi menjadi : orang I, orang III, atau campuran ( orang I dan orang III ).<br />
Sudut pandang I terbagi menjadi : orang I sebagai tokoh utama, contoh : autobiografi, cerita rekaan, tetapi seakan pengarang sendiri yang diceritakan. Orang I pengamat, yaitu pengamat sebagai pengamat, tetapi ada dalam cerita. Kata ganti yang dapat digunakan saya atau aku atau yang sejenisnya, biasa pula disebut sudut pandang akuan.<br />
Sudut pandang orang III terbagi menjadi : orang III serba tahu, yaitu melaporkan semua tindak tanduk sangat pribadi dari pelaku, dan orang III terarah, yaitu terpusat pada satu karakter. Kata ganti yang dapat digunakan adalah dia, ia, mereka, nama orang, atau kata ganti orang ketiga lainnya, biasa disebut sudut pandang diaan<br />
Contoh<br />
Pak Balam menutup matanya kembali, dan dia terbaring demikian, letih telah<br />
berbicara begitu banyak<br />
Mereka duduk mengelilinginya dengan pikiran masing-masing. Cerita Pak Balam menimbulkan kesan yang dahsyat sekali dalam hati mereka. Mereka ingin dapat selamat sampai ke kampung, meninggalkan hutan dengan harimau maut jauh-jauh di belakang. Akan tetapi, mengakui dosa-dosa di depan kawan-kawan semua.<br />
Harimau-Harimau, Muchtar Lubis<br />
Sudut pandang dalam kutipan tersebut adalah orang III serba tahu karena melaporkan semua tindak tanduk tokoh, yaitu Pak Balam dan mereka.</p>
<p>Konflik Drama<br />
     Konflik drama, ialah ketegangan atau pertentangan dalam drama ( petentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri seorang tokoh, dua orang tokoh, atau kelompok )<br />
Penyeb konflik antara lain : dengan diri sendiri ( konflik batin),antartokoh, budaya, alam/ lingkungan, sosial )<br />
Contoh :<br />
Sulung    : Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di sana segala lapangan kerja buka<br />
                  lebar-lebar bagi bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara bangsa<br />
                  awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup damai. Rukun berdampingan antara si putih<br />
                  dan bangsa awak.<br />
Bapak     : Dan di atas segalanya pula. di sana si putih menjadi diperlukan. Dan sebuah bendara<br />
                  asing jadi lambang kedaulatan, lambang kuasa; penjajahan. Dapatkah itu kau artikan<br />
                  kemerdekaan ?<br />
( Bapak, B. Sularto )<br />
Konflik yang terdapat dalam kutipan drama tersebut adalah si bapak menerima kenyataan bahwa anaknya telah salah langkah karena menjadi penghianat bangsa dan negara. Terbukti anaknya sangat memuji penjajah ( kulit putih )<br />
Tahapan konflik dapat pula dibagi menjadi awal konflik, konflik, konflik mulai bergerak (konfiksasi), puncak konflik atau klimaks, dan penyelesaian atau antiklimaks (akhir konflik)</p>
<p>Nilai-Nilai dalam Novel<br />
     Dalam sebuah karya sastra terkandung nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain : nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti baik dan buruk, nilai sosial, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma-norma dalam kehidupan masyarakat ( misalnya saling memberi, menolong, dan tenggang rasa ), nilai budaya, yaitu konsep mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia ( misalnya : adat-istiadat, kesenian, kepercayaan, upacara adat ), dan nilai estetika, yaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan dalam karya sastra ( tentang bahasa, alur, tema )<br />
Contoh :<br />
Dari sebuah kantung di dalam keranjang besarnya, Wak Katok mengeluarkan<br />
daun ramu-ramuan. Mereka membersihkan luka-luka Pak Balam dengan air panas dan Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan daun-daun yang kemudian mereka membungus dengan sobekan kain sarung Pak Balam. Wak Katok merebus ramuan obat-obatan sambil membaca mantera-mantera, dan setelah air mendidih, air obat dituangkan ke dalam mangkok dari batok kelapa. Setelah air agak dingin, Wak Katok meminumkannya kepada Pak Balam sedikit demi sedikit.<br />
( Harimau-Harimau, Muchtar Lubis )<br />
Nilai sosial yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah memberi pertolongan kepada orang yang sedang sakit. Karena dalam kutipan diungkapkan, Wak Katok dan teman-temannya memberi pertolongan kepada Pak Balam yang terluka ( membersihkan, mengobati, dan membalutnya ) meminumkannya obat yang mereka buat sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=65&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/28/sastra-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SASTRA : PUISI LAMA</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/26/sastra-puisi-lama/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/26/sastra-puisi-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 11:52:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/26/sastra-puisi-lama/</guid>
		<description><![CDATA[Puisi Lama A.PENGERTIAN Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain : 1. Jumlah kata dalam 1 baris 2. Jumlah baris dalam 1 bait 3. Persajakan (rima) 4. Banyak suku kata tiap baris 5. Irama B. MACAM-MACAM PUISI LAMA 1. MANTRA Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=64&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puisi Lama<br />
A.PENGERTIAN<br />
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.<br />
Aturan- aturan itu antara lain :<br />
1. Jumlah kata dalam 1 baris<br />
2. Jumlah baris dalam 1 bait<br />
3. Persajakan (rima)<br />
4. Banyak suku kata tiap baris<br />
5. Irama<br />
B. MACAM-MACAM PUISI LAMA<br />
1. MANTRA<br />
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.<br />
Contoh:<br />
Assalammu’alaikum putri satulung besar<br />
Yang beralun berilir simayang<br />
Mari kecil, kemari<br />
Aku menyanggul rambutmu<br />
Aku membawa sadap gading<br />
Akan membasuh mukamu<br />
2.GURINDAM<br />
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)<br />
CIRI-CIRI GURINDAM:<br />
a. Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.<br />
b. Berasal dari Tamil (India)<br />
c. Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.<br />
Contoh :<br />
Kurang pikir kurang siasat (a)<br />
Tentu dirimu akan tersesat (a)<br />
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )<br />
Bagai rumah tiada bertiang ( b )<br />
Jika suami tiada berhati lurus ( c )<br />
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )<br />
3. SYAIR<br />
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.<br />
CIRI &#8211; CIRI SYAIR :<br />
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris<br />
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata<br />
c. Bersajak a – a – a – a<br />
d. Isi semua tidak ada sampiran<br />
e. Berasal dari Arab<br />
Contoh :<br />
Pada zaman dahulu kala (a)<br />
Tersebutlah sebuah cerita (a)<br />
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)<br />
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)<br />
Negeri bernama Pasir Luhur (a)<br />
Tanahnya luas lagi subur (a)<br />
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)<br />
Rukun raharja tiada terukur (a)<br />
Raja bernama Darmalaksana (a)<br />
Tampan rupawan elok parasnya (a)<br />
Adil dan jujur penuh wibawa (a)<br />
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)<br />
4.PANTUN<br />
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.<br />
CIRI – CIRI PANTUN :<br />
1. Setiap bait terdiri 4 baris<br />
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran<br />
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi<br />
4. Bersajak a – b – a – b<br />
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata<br />
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)<br />
Contoh :<br />
Ada pepaya ada mentimun (a)<br />
Ada mangga ada salak (b)<br />
Daripada duduk melamun (a)<br />
Mari kita membaca sajak (b)<br />
MACAM-MACAM PANTUN<br />
1. DILIHAT DARI BENTUKNYA<br />
a. PANTUN BIASA<br />
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.<br />
Contoh :<br />
Kalau ada jarum patah<br />
Jangan dimasukkan ke dalam peti<br />
Kalau ada kataku yang salah<br />
Jangan dimasukan ke dalam hati<br />
2. SELOKA (PANTUN BERKAIT)<br />
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.<br />
CIRI-CIRI SELOKA:<br />
a. Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.<br />
b. Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga<br />
c. Dan seterusnya<br />
Contoh :<br />
Lurus jalan ke Payakumbuh,<br />
Kayu jati bertimbal jalan<br />
Di mana hati tak kan rusuh,<br />
Ibu mati bapak berjalan<br />
Kayu jati bertimbal jalan,<br />
Turun angin patahlah dahan<br />
Ibu mati bapak berjalan,<br />
Ke mana untung diserahkan<br />
3. TALIBUN<br />
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.<br />
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.<br />
Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.<br />
Jadi :<br />
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.<br />
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d<br />
Contoh :<br />
Kalau anak pergi ke pekan<br />
Yu beli belanak pun beli sampiran<br />
Ikan panjang beli dahulu<br />
Kalau anak pergi berjalan<br />
Ibu cari sanak pun cari isi<br />
Induk semang cari dahulu<br />
4. PANTUN KILAT ( KARMINA )<br />
CIRI-CIRINYA :<br />
a. Setiap bait terdiri dari 2 baris<br />
b. Baris pertama merupakan sampiran<br />
c. Baris kedua merupakan isi<br />
d. Bersajak a – a<br />
e. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata<br />
Contoh :<br />
Dahulu parang, sekarang besi (a)<br />
Dahulu sayang sekarang benci (a)<br />
2. DILIHAT DARI ISINYA<br />
2.1. PANTUN ANAK-ANAK<br />
Contoh :<br />
Elok rupanya si kumbang jati<br />
Dibawa itik pulang petang<br />
Tidak terkata besar hati<br />
Melihat ibu sudah datang<br />
2.2. PANTUN ORANG MUDA<br />
Contoh :<br />
Tanam melati di rama-rama<br />
Ubur-ubur sampingan dua<br />
Sehidup semati kita bersama<br />
Satu kubur kelak berdua<br />
2.3. PANTUN ORANG TUA<br />
Contoh :<br />
Asam kandis asam gelugur<br />
Kedua asam riang-riang<br />
Menangis mayat di pintu kubur<br />
Teringat badan tidak sembahyang<br />
2.4. PANTUN JENAKA<br />
Contoh :<br />
Elok rupanya pohon belimbing<br />
Tumbuh dekat pohon mangga<br />
Elok rupanya berbini sumbing<br />
Biar marah tertawa juga<br />
2.5. PANTUN TEKA-TEKI<br />
Contoh :<br />
Kalau puan, puan cemara<br />
Ambil gelas di dalam peti<br />
Kalau tuan bijak laksana<br />
Binatang apa tanduk di kaki</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=64&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/26/sastra-puisi-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEBAHASAAN</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/25/kebahasaan/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/25/kebahasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 07:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/25/kebahasaan/</guid>
		<description><![CDATA[PERANAN BAHASA INDONESIA DALAM KONSEP ILMIAH 1.1 Sejarah Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Hal ini dilandaskan dalam Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan. Bahasa Indonesia sendiri mempunyai kedudukan yang sangat penting, antara lain, bersumber pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: Kami putra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=62&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERANAN BAHASA INDONESIA<br />
DALAM   KONSEP ILMIAH</p>
<p>1.1     Sejarah Bahasa Indonesia<br />
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Hal ini dilandaskan dalam Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan.<br />
Bahasa Indonesia sendiri mempunyai kedudukan yang sangat penting, antara lain, bersumber pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah. Selain itu, di dalam Undang-Undang Dasar 1945 tercantum pasal khusus (Bab XV, Pasal 36) mengenai kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa bahasa negara Indonesia ialah bahasa Indonesia. Dengan demikian ada dua macam kedudukan bahasa Indonesia. Pertama, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional, sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928, dan kedua bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa negara, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.<br />
Berdasarkan pemakaiannya, bahasa memiliki bermacam-macam ragam sesuai dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungannya. Ragam bahasa pada pokoknya terdiri atas ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan terdiri atas ragam lisan baku dan ragam lisan takbaku; ragam tulis terdiri atas ragam tulis baku dan ragam tulis takbaku. Bahasa Indonesia baku dipakai dalam (1) Karang-mengarang, (2) pembicaraan pada situasi formal, (3) pembicaraan di depan umum, dan (4) pembicaraan di depan orang yang dihormati; bahasa Indonesia tidak baku dipakai dalam situasi santai. Kedua ragam bahasa itu dapat hidup berdampingan.<br />
1.2   Bahasa Indonesia dalam karya ilmiah<br />
1.2.1  Definisi karya ilimiah<br />
Karya ilmiah menurut Brotowijoyo dalam Arifin (1985: 8—9) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.<br />
Bahasa Indonesia dalam karangan ilmiah mempunyai fungsi yang sangat penting, karena bahasa merupakan media pengungkap gagasan penulis. Bahasa yang digunakan dalam tulisan ilmiah adalah bahasa Indonesia ilmiah. Bahasa Indonesia ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah.</p>
<p> 1.2.2     Jenis-jenis karya ilmiah dapat dibedakan atas berikut :<br />
                     a. Makalah<br />
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan permasalahan dan pembahasannya berdasarkan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif.<br />
                     b. Kertas kerja<br />
Kertas kerja adalah karya tulis ilmiah yang bersifat lebih mendalam daripada makalah dengan menyajikan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif. Makalah sering ditulis untuk disajikan dalam kegiatan penelitian dan tidak untuk didiskusikan, sedangkan kertas kerja ditulis untuk disajikan dalam seminar atau lokakarya.<br />
c. Laporan Praktik Kerja<br />
Laporan praktik kerja adalah karya tulis ilmiah yang memaparkan data hasil temuan di lapangan atau instansi perusahaan tempat kita bekerja. Jenis karya ilmiah ini merupakan karya ilmiah untuk jenjang diploma III (DIII).<br />
d. Skripsi<br />
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain (karya ilmiah S I). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar sarjana skripsi langsung (observasi lapangan) dan tidak langsung (studi kepustakaan).<br />
e. Tesis<br />
Tesis adalah karya tulis ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan baru dengan melakukan pengujian terhadap suatu hipotesis. Tesis ini sifatnya lebih mendalam dari skripsi (karya ilmiah S II). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar magister.<br />
f. Disertasi<br />
Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan teori atau dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta secara empiris dan objektif (karya ilmiah S III). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar doktor.<br />
Perbedaan antara makalah, kertas kerja dengan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari hal-hal berikut:<br />
(1) kegunaannya,<br />
(2) tebal halaman,<br />
(3) waktu pengerjaan, dan<br />
(4) gelar akademik.<br />
1.3    Karakteristik karya ilmiah<br />
1. Mengacu kepada teori<br />
Artinya karangan ilmiah wajib memiliki teori yang dijadikan sebagai landasan berpikir / kerangka pemikiran / acuan dalam pembahasan masalah.<br />
Fungsi teori :<br />
a. Tolak ukur pembahasan dan penjawaban persoalan<br />
b. Dijadikan data sekunder / data penunjang ( data utama ; fakta )<br />
c. Digunakan untuk menjelaskan, menerangkan, mengekspos dan mendeskripsikan suatu gejala<br />
d. Digunakan untuk mendukung dan memperkuat pendapat penulis.<br />
2. Berdasarkan fakta<br />
Artinya setiap informasi dalam kerangka ilmiah selalu apa adanya, sebenarnya dan konkret.<br />
3. Logis<br />
Artinya setiap keterangna dalam kerangka ilmiah selalu dapat ditelusuri, diselidiki dan diusut alasan-alasannya, rasional dan dapat diterima akal.<br />
4. Objektif<br />
Artinya dalam kerangka ilmiah semua keterangan yang diungkapkan tidak pernah subjektif, senantiasa faktual dan apa adanya, serta tidak diintervensi oleh kepentingan baik pribadi maupun golongan.<br />
5. Sistematis<br />
Baik penulisan / penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah disajikan secara rutin, teratur, kronologis, sesuai dengan prosedur dan sistem yang berlaku, terurut, dan tertib.<br />
6. Sahih / Valid<br />
Artinya baik bentuk maupun isi karangan ilmiah sudah sah dan benar menurut aturan ilmiah yang berlaku.<br />
7. Jelas<br />
Artinya setiap informasi dalam karangan ilmiah diungkapkan sejernih-jernihnya, gamblang, dan sejelas-jelasnya sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dan keraguan-raguan dalam benak pembaca.<br />
8. Seksama<br />
Baik penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah dilakukan secara cermat, teliti, dan penuh kehati-hatian agar tidak mengandung kesalahan betapa pun kecilnya.<br />
9. Tuntas<br />
Pembahasan dalam karangan ilmiah harus sampai ke akar-akarnya. Jadi, supaya karangan tuntas, pokok masalah harus dibatasi tidak boleh terlalu luas.<br />
10. Bahasanya Baku<br />
Bahasa dalam kerangka ilmiah harus baku artinya harus sesuai dengan bahasa yamg dijadikan tolak ukur / standar bagi betul tidaknya penggunaan bahasa.<br />
11. Penulisan sesuai dengan aturan standar (nasional / internasional)<br />
Akan tetapi, tata cara penulisan laporan penelitian yang berlaku di lembaga tempat penulis bernaung tetap harus diperhatikan.<br />
1.4        Persyaratan menulis ilmiah<br />
1. Menguasi teori ;<br />
2. Memiliki pengalaman<br />
3. Bersifat terbuka<br />
4. Bersifat objektif<br />
5. Memiliki kemampuan berbahasa<br />
1.5        Langkah-langkah penulisan karya ilmiah<br />
1. Persiapan<br />
a) Pemilihan Topik<br />
Cara memilih topik yang baik dalam karya ilmiah adalah sebagai<br />
berikut:<br />
a) topik itu sudah dikuasai;<br />
b) topik itu paling menarik perhatian;<br />
c) topik itu ruang lingkupnya terbatas;<br />
d) data itu objektif;<br />
e) memiliki prinsip-prinsip ilmiah (ada landasan teori atau teori-teori<br />
sebelumnya;<br />
f) memiliki sumber acuan.<br />
b) Penentuan Judul<br />
Cara menulis judul adalah dengan menentukan kerangka karangan dengan pembatasan topik.<br />
Contoh:<br />
topik : perkantoran<br />
masalah apa : kepegawaian<br />
mengapa : pengawasan<br />
di mana : Pemda Jawa Barat<br />
waktu : tiga bulan<br />
kajian : praktik/penerapan<br />
Contoh: Lihat bagan!<br />
Fungsi Pengawasan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Pegawai di Lingkungan Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Barat<br />
Catatan : Syarat judul yang baik adalah sebagai berikut:<br />
1. harus bebentuk frasa,<br />
2. tanpa ada singkatan atau akronim,<br />
3. awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,<br />
4. tanpa tanda baca di akhir judul karangan,<br />
5. menarik perhatian,<br />
6. logis, dan<br />
7. sesuai dengan isi.<br />
Jika ada kata kerja atau predikat dalam judul karangan, kata kerja tersebut harus diubah menjadi kata benda.<br />
Mengawasi       menjadi                        pengawasan<br />
Berfungsi          menjadi                        fungsi atau jadi peranan<br />
Bermanfaat        menjadi                        pemanfaatan<br />
Pupuk Cair Organik Berfungsi untuk Meningkatkan Produksi Padi<br />
(Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung.<br />
Seharusnya:<br />
Fungsi Pupuk Cair Organik dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung<br />
atau<br />
Peranan Pupuk Cair Organik dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung<br />
Predikat (kata kerja) dalam judul tersebut tidak ada lagi.<br />
c) Penulisan Kerangka Karangan<br />
Kerangka karangan adalah pengelompokan dan pengamatan jenis fakta dan sifatnya menjadi kesatuan yang bertautan.<br />
Contoh:<br />
LEMBAR PENGESAHAN<br />
KATA PENGANTAR<br />
DAFTAR ISI<br />
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG<br />
DAFTAR TABEL<br />
BAB I PENDAHULUAN<br />
1.1 Latar Belakang Masalah<br />
1.2 Pembatasan Masalah<br />
1.3 Tujuan Penelitian<br />
1.4 Kerangka Teori<br />
1.5 Sumber Data<br />
1.6 Sistematika Penulisan<br />
BAB II LANDASAN TEORI<br />
2.1 …<br />
2.2 …<br />
BAB III METODE PENELITIAN DAN KAJIAN<br />
3.1 …<br />
3.2 …<br />
BAB IV ANALISIS DATA<br />
4.1 …<br />
4.2 …<br />
BAB V SIMPULAN DAN SARAN<br />
5.1 …<br />
5.2 …<br />
RAGANGAN SKRIPSI SEMENTARA<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
DAFTAR KAMUS<br />
LAMPIRAN DATA<br />
2. Pengumpulan Data<br />
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:<br />
a. mencari informasi/data dari kepustakaan;<br />
b. menyusun daftar angket;<br />
c. melakukan wawancara;<br />
d. melakukan pengamatan di lapangan;<br />
e. melakukan percobaan di laboratorium.<br />
3. Penyusunan Data<br />
Penyusunan data dapat diartikan menyeleksi, mengolah, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik-teknik atau metode yang telah ditentukan.<br />
4. Pengetikan<br />
Setelah data disusun lalu diadakan pengetikan data (penelitian).<br />
5. Pemeriksaan<br />
Pemeriksaan data (penelitian) dapat dilakukan melalui tahapan<br />
penerapan bahasa berikut:<br />
1. penyusunan paragraf,<br />
2. penerapan kalimat baku,<br />
3. penerapan diksi/pilihan kata, dan<br />
4. penerapan EYD.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=62&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/25/kebahasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan Kebahasaan</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/24/pengetahuan-kebahasaan/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/24/pengetahuan-kebahasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 21:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/24/pengetahuan-kebahasaan/</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi Panel Pengertian Diskusi Panel • Diskusi panel merupakan forum pertukaran pikiran yang dilakukan oleh sekelompok orang dihadapan sekelompok hadirin mengenai suatu masalah tertentu yang telah dipersiapkannya. • Diskusi Panel adalah sekelompok individu yang membahas topik tentang kelebihan pada masyarakat atau pendengar diskusi. • Panel mungkin sangat terstruktur atau mungkin saja sangat tidak formal. Suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=59&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi Panel<br />
Pengertian Diskusi Panel<br />
•	Diskusi panel merupakan forum pertukaran pikiran yang dilakukan oleh sekelompok orang dihadapan sekelompok hadirin mengenai suatu masalah tertentu yang telah dipersiapkannya.<br />
•	Diskusi Panel adalah sekelompok individu yang membahas topik tentang kelebihan pada masyarakat atau pendengar diskusi.<br />
•	Panel mungkin sangat terstruktur atau mungkin saja sangat tidak formal. Suatu panel yang berstruktur mungkin membatasi panjang dan keleluasaan dalam menuturkan kata-kata (sampai pendapat), panel yang tidak formal mungkin menekankan interaksi spontan yang bebas, para peneliti diharapkan terlebih dahulu memberikan pidato tanpa text dan memiliki pengetahuan / keahlian sebagai dasar komentar mereka. Keanggotaan panel biasanya terdiri atas para ahli, orang-orang awam yang tertarik atau gabungan keduanya, tergantung pada topik yang dibahas. Satu kriteria penting diskusi panel yang baik adalah adanya interaksi antar para peserta diskusi panel.</p>
<p> Kelebihan-kelebihan dari Diskusi Panel<br />
•	Memberikan kesempatan kepada pendengar untuk mengikuti berbagai pandangan sekaligus.<br />
•	Biasanya dalam diskusi panel timbul pro dan kontra pandangan, semakin sengit pro dan kontra, maka diskusi akan semakin menarik untuk diikuti.<br />
•	Dalam diskusi panel, kelompok yang melakukan diskusi akan berhati-hati dalam mengajukan pandangan atau mengemukakan pendapat, karena menyadari akan dapat langsung digugat atau dibantah.<br />
•	Peserta yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih dalam hal yang didiskusikan dapat menyampaikan pandangan.</p>
<p> Kekurangan-kekurangan dari Diskusi Panel<br />
•	Diskusi panel menjadi tidak menarik apabila semua peserta waswas untuk menyampaikan pandangan secara terus terang dan semua peserta merasa sungkan untuk berbeda pandangan.<br />
•	Suasana dalam diskusi panel akan menjadi pincang atau tidak seimbang apabila ada peserta yang jauh lebih tangkas dalam menyampaikan daripada yang lainnya.<br />
•	Ada kalanya moderator terpaksa harus berusaha membuat kesimpulannya sendiri dan menyampaikannya dalam diskusi itu.<br />
•	Harus memilih moderator yang berani dan mampu turun tangan untuk menyelamatkan diskusi agar jangan sampai pincang atau berat sebelah.<br />
•	Ada kemungkinan terjadinya “pencemaran nama baik” dalam diskusi panel.</p>
<p> Tugas-tugas Para Pelaku dalam Diskusi Panel<br />
 Tugas-tugas Peserta:<br />
•	mengikuti jalannya diskusi dari awal sampai dengan akhir dan terbagi menjadi tim affirmatif dan oposisi yang termasuk panelis,<br />
•	mengajukan usul, pendapat, maupun komentar,<br />
•	meminta panelis untuk memberikan pembuktian, contoh, maupun perbandingan.</p>
<p> Tugas-tugas Notula/penulis:<br />
•	menulis jumlah peserta dan segala kegiatan dalam diskusi,<br />
•	diperbolehkan untuk menyanggah,<br />
•	diperbolehkan untuk menyetujui ataupun tidak menyetujui,<br />
•	membuat makalah tentang permasalahan yang didiskusikan.</p>
<p> Tugas-tugas Penyaji/panelis:<br />
•	menyajikan materi diskusi,<br />
•	berperan sebagai pembicara dalam diskusi,<br />
•	mengutarakan makalah yang disampaikan,<br />
•	menjawab pertanyaan dari peserta dan penyanggah.</p>
<p> Tugas-tugas Moderator:<br />
•	membuka diskusi,<br />
•	membacakan riwayat kehidupan panelis,<br />
•	mempersilakan panelis untuk berbicara,<br />
•	mengatur dan memimpin jalannya diskusi,<br />
•	membacakan kesimpulan diskusi.</p>
<p> Tugas-tugas Penyanggah:<br />
•	menyanggah usulan dari tim affirmatif,<br />
•	menyanggah pembicaraan panelis,<br />
•	meneliti kata-kata dalam makalah,<br />
•	melakukan pembuktian dan menentukan nilai banding,<br />
•	menyanggah hal-hal yang dianggap penting.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=59&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/24/pengetahuan-kebahasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ESAI SASTRA</title>
		<link>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/22/esai-sastra/</link>
		<comments>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/22/esai-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 14:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fahruraji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/22/esai-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[ANALISIS STRUKTURAL TERHADAP CERPEN GERSON POYK Posted by: MahaDewa in Esai Add Comment Maman S Mahayana Analisis struktural, pendekatan instrinsik, atau pendekatan objektif termasuk penelitian, telaah, atau pengkajian terhadap karya sastra sendiri. Perbedaan istilah itu lebih disebabkan oleh perbedaan cara pandang peneliti menempatkan dan memberi pengertian terhadap karya sastra. Dalam analisis struktural misalnya, karya sastra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=55&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ANALISIS STRUKTURAL TERHADAP CERPEN GERSON POYK<br />
   Posted by: MahaDewa   in Esai<br />
Add Comment<br />
Maman S Mahayana<br />
Analisis struktural, pendekatan instrinsik, atau pendekatan objektif termasuk penelitian, telaah, atau pengkajian terhadap karya sastra sendiri. Perbedaan istilah itu lebih disebabkan oleh perbedaan cara pandang peneliti menempatkan dan memberi pengertian terhadap karya sastra. Dalam analisis struktural misalnya, karya sastra dianggap sebagai sebuah struktur: ia hadir dan dibangun oleh sejumlah unsur yang berperan secara fungsional. Analisis struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur tersebut sebagai kesatuan struktural. Pusat perhatian analisis struktural adalah hubungan fungsional antarunsur itu sebagai suatu keutuhan. Kesatuan unsur-unsur itu bukan cuma kumpulan atau tumpukan hal-hl tertentu yang berdiri sendiri, namun saling berkaitan, terikat, bergantung satu sama lain.<br />
Pendekatan instrinsik pun pada dasarnya sama dengan analisis struktural. Karya sastra dianggap di dalamnya mempunyai sejumlah elemen atau peralaatn yang saling berkaitan dan masing-masing mempunyai fungsinya sendiri. Pendekatan intrinsik mencoba menjelaskan fungsi dan keterkaitan elemen (unsur) atau peralatan itu tanpa menghubungkannya dengan faktor di luar itu, seperti biografi pengarang, latar belakang penciptaan, atau keadaan dan pengaruh karya sastra kepada pembacanya.<br />
Adapun pendekatan objektif menempatkan karya sastra yang akan diteliti atau dianalisis itu sebagai objeknya. Mengingat karya sastra yang menjadi objeknya mempunyai unsur-unsurnya yang satu dengan lainnya tidak dapat dilepaskan, maka unsur-unsur itulah yang hendak diuraikan dalam pendekatan objektif. Masalah subjektivitas peneliti, seperti perasaan suka atau tidak suka terhadap pengarangnya, temanya, atau gaya bahasanya, disisihkan. Lalu apa yang dimaksud unsur-unsur bahasa itu dan bagaimana melihat fungsinya masing-masing? Dalam puisi, larik, bait, diksi, atau majas, citraan, dan sarana retorika lain, dianggap sebagai unsur-unsur pembangunnya. Dalam drama, unsur-unsur itu, antara lain, dialog, latar, tokoh, alur, dan tema. Unsur novel, antara lain, tokoh, alur, latar, tema, sudut pandang, dan pencerita.<br />
Sebagai bahan apresiasi, berikut ini akan dibicarakan sebuah cerpen Gerson Poyk, “Pak Begouwan” (Horison, Desember 1993, hlm. 56—60) berdasarkan analisis struktural. Betapapun analisisnya masih sangat sederhana, diharapkan dapat memberi gambaran lebih jelas, bagaimana mestinya analisis struktural dilakukan.<br />
***<br />
Cerpen “Pak Begouwan” menampilkan tokoh Pak Begouwan, pensiunan ABRI yang tunadaksa; cacat kaki karena kecelakaan sehingga terpaksa hidup bergantung pada kursi roda bermesin listrik. Pembantunya yang banci, tiap malam pergi begadang bersama teman sejenisnya. Jadi, jika malam, Pak Begouwan tinggal sendiri da menghabiskan waktunya dengan menonton televisi. Dalam keadaan begitu, ia kedatangan tamu bernama Bambang Hertawan yang mengaku direktur perusahaan percetakan; mengaku juga masih sekerabat. Ternyata tamu itu tidak lebih dari seorang penipu. Beruntung, pembantu Pak Begouwan yang banci, memergoki si penipu saat kursi roda seharga 5.000 dolar hendak dijualnya. Berkat bantuan temannya sesama banci, tertangkaplah penipu itu. Namun, Pak Begouwan sendiri tidak mau melaporkannya kepada polisi.<br />
***<br />
Dari ringkasan cerpen itu kita melihat keadaan fisik tokoh Pak Begouwan; pensiunan yang cacat kaki menyiratkan sosok manusia yang tercampakkan. Keadaan ini didukung oleh latar suasana dan latar fisik; kursi roda, lingkungan yang jauh dari keramaian kota, kesepian, acara televisi yang membosankan, tinggal sendiri, dan pembantunya yang banci pergi, maka lengkaplah kesepian dan ketakberdayaan Pak Begouwan. Dalam hal ini, gambaran latar yang demikian, mendukung keadaan fisik dan mental si tokoh. Soalnya akan berbeda dan menjadi tidak fungsional jika latar digambarkan sebaliknya: Pak Begouwan hidup bersama kedua anaknya, berada di lingkungan yang ramai, acara TV yang meanrik, pembantunya setiap saat berada di sisinya, atau hidup dengan berbagai kegiatan. Jadi, dengan latar yang mendukung ketidakberdayaan Pak Begouwan, kita (pembaca) “digiring” untuk prihatin pada nsib tokoh itu.<br />
Guna memperkuat ketakberdayaan tokoh itu, pengarang juga menampilkan tokoh lain: tetangga yang agresif. Saat tetangganya marah dan sengaja ngeledek dengan mengirim sekarung daun nangka ke halaman rumahnya,”Pak Begouwan tak dapat berbuat apa kecuali diam.” Diam karena tidak berdaya, tidak punya kemampuan untuk melawan! Sebelum kakinya cacat karena ditabrak motor polisi, ia pernah pula ditipu oleh pembantu rumah tangganya. Terakhir, tamunya yang mengaku bernama Bambang Hartawan, melengkapi ketakberdayaan Pak Begouwan. Jadi, kehadiran tokoh-tokoh lain bagi Pak Begouwan, menempatkannya sebagai tokoh yang malang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang sudah tidak berguna lagi. Kemudian, apakah ini semacam ironi bagi pensiunan ABRI?<br />
Gambaran Pak Begouwan yang diliputi ketakberdayaan, latar suasana yang sepi—sendiri—latar sosial yang tidak dinamis, dan tampilnya tokoh-tokoh lain yang justru malah menambah derita tokoh pensiunan itu menunjukkan bahwa unsur-unsur itu hadir secara fungsional. Ada hubungan yang erat antar-unsurnya. Lalu bagaimana kaitannya dengan tema cerpen ini?<br />
Tema sebagai pokok persoalan dalam sebuah wacana (discourse) kehadirannya tidak terlepas dari motif-motif sebagai tema yang lebih kecil. Motif-motif itulah yang kemudian membangun sebuah tema cerita. Sementara tema sendiri sebagai salah satu unsur dalam struktur itu kedudukannya sama seperti unsur yang lain. Ia terkait erat dengan unsur lainnya. Lalu bersama unsur-unsur lain itulah, sebuah wacana dalam kesatuan struktur naratif dibangun.<br />
Dalam cerpen “Pak Begouwan”, kita dapat mencermati motif-motif yang melingkari tokoh Pak Begouwan. Kesepian, kesendirian, kemalangan, ketuaan, dan ketakberdayaan telah menyeret diri tokoh itu merasakan betul ketakberdayaannya. Dengan demikian, masalah itulah yang menjadi tema cerpen ini: ketakberdayaan Pak Begouwan sebagai purnawirawan tunadaksa. Perhatikan kutipan berikut ini:<br />
Pagi itu, dengan kaki yang sudah agak sehat walaupun masih terbungkus gips, Pak Begouwan diantar oleh pembantunya dengan mengendarai taksi ke tempat yang disebut pembantunya. Pak Begouwan terkejut melihat Drs. Bambang Hertawan Direktur P.T. Grafika Putra gadungan itu tidur di atas plastik bersama sahabat kentalnya, orang yang punya anak mahasiswa gadungan yang menipu adiknya di Bali. Keduanya menimbulkan kesan kelelahan kepercumaan, keterdamparan dua bongkah manusia tak berharga dibanding struktur raksasa jalan layang itu….<br />
Di luar di depan mata kepala manusia, jawaban diberikan oleh seekor kecoa yang melintasi wajah doktorandus di SD, karena seekor kucing mendekati ketiak doktorandus gadungan itu lalu menyemprotkan kencingnya keras-keras, tetapi tidak disadari oleh yang dikencingi.<br />
Dalam peristiwa tersebut, Pak Begouwan dihadapkan pada sosok manusia (Bambang Hartawan) dan temannya—yang juga penipu—yang diliputi kelelahan, kepercumaan, dan keterdamparan. Kesan itu menjadi sangat kuat dengan penggambaran latar struktur raksasa jalan layang. Lalu secara sinis, kepercumaan dua manusia itu disimpulkan kewat seekor kecoa yang melintasi wajah sarjana dan mahasiswa gadungan itu, serta seekor kucing yang mengencingi keduanya. Dalam hal ketakberdayaan Pak Begouwan dan ketidaknormalan para banci, ternyata masih lebih bermakna dibandingkan kedua penipu itu.<br />
***<br />
Sekedar catatan kecil, beberapa kelemahan cerpen ini perlu juga disinggung untuk menunjukkan betapa keterkaitan antarunsur yang membangun struktur naratif cerpen ini mesti berperan secara fungsional. Peristiwa kecelakaan yang menimpa Pak Begouwan di awal cerita, misalnya, tampak kurang didukung oleh kehadiran tokoh lain. Polisi menabraknya sambil berseru, “Mampus kau! Arwah pahlawan lebih penting dari kakimu!” Seakan-akan hadir hanya untuk menjadikan kaki Pak Begouwan cacat. Lalu mengapa mesti polisi? Begitu pun kehadiran Menteri Penerangan Korea Utara dan Indonesia, tampak hanya sekedar untuk memberi kursi roda. Jika polisi dan kedua pejabat tinggi negara itu, berperan dalam peristiwa selanjutnya, kehadiran tokoh-tokoh itu menjadi fungsional. Misalnya, polisi itu yang kemudian menangkap penipu; atau pejabat tinggi itu pernah pula ditipu oleh si doktorandus dan mahasiswa gadungan. Jadi polisi dan kedua pejabat tinggi itu, tidak hanya berperan sebagai pnyebab semata-mata.<br />
Peristiwa lain yang juga mengganggu dapat kita perhatikan dari kutipan ini: “Mendengar itu, kepalanya melepaskan diri dari badannya dan mengejar polisi itu….” Sebagai cerpen konvensional yang peristiwanya dibangun oleh hubungan sebagai akibat, pernyataan itu, jelas tidak logis. Ketidaklogisan ini juga terjadi pada negeri baru sebagaimana dipaparkan di awal cerita. Sebab belakangan Pak Begouwan diketahui tinggal di sebuah kampung di pinggiran kota Jakarta. Ada kesan, dalam bagian ini, pengarang sekedar bermaksud membuka cerita. Tetapi akibatnya, bagian ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa berikutnya.<br />
Tokoh lain yang juga kehadirannya mengganggu keseluruhan cerita adalah tokoh tetangga Pak Begouwan yang beternak ayam. Bagaimana peternak ayam digambarkan mempunyai watak seperti ini:<br />
Kadang-kadang, kalau dia marah mengejar anak ayam yang terlepas dari kandang, ia menangkapnya dan langsung meremas anak ayam itu sampai mati dan terpuaskanlah dendam dan amarahnya. Padahal, sebelumnya ia berkata begini, “Tega benar orang Jakarta ini. Ayam orang masuk halaman orang lain, langsung digoreng….”<br />
Watak tokoh Pak Begouwan sendiri, dalam beberapa hal, juga digambarkan secara kurang wajar. Bagaimana seorang pensiunan ABRI dapat berperilaku lemah dan pasrah tak berdaya. Mungkinkah kecelakaan kaki yang menimpa Pak Begouwan secara keseluruhan mengubah wataknya yang sudah dibentuk semasa ia masih dinas? Masalahnya akan menjadi lain, jika Pak Begouwan bukan mantan ABRI, misalnya, pensiunan guru atau pegawai sipil lainnya.<br />
Begitulah, contoh analisis struktural (sederhana) terhadap cerpen “Pak Begouwan” karya Gerson Poyk.***<br />
Tags: Apresiasi Cerpen, Maman S Mahayana<br />
This entry was posted on Thursday, October 30th, 2008 at 3:30 am and is filed under Esai. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.<br />
2 comments so far<br />
Fahrurraji Asmuni</p>
<p> 1<br />
Salam. Saya guru SMAN 1 Amuntai, mengajar bahasa Indonsia. Saya sangat senang bertemu bapak Maman S Mahayana di Balangan (Kalsel) pada Aruh Sastra V<br />
Blog saya : wwwkaryaraji.blogspot.com<br />
December 14th, 2008 at 9:10 pm<br />
azma</p>
<p> 2</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fahruraji.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fahruraji.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fahruraji.wordpress.com&amp;blog=10248860&amp;post=55&amp;subd=fahruraji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fahruraji.wordpress.com/2010/04/22/esai-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/789c556f053c45246a6f36ac7b78c825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fahruraji</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
